DAKWAH ANTAR ETNIK, RAS dan BANGSA
Novi Fitriatul Hasanah
Nim:
B01219041
Budaya dan masyarakat ibarat dua sisi mata uang logam yang
merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara satu sama lain.
Budaya tanpa masyarakat itu tidak mungkin, begitu juga sebaliknya masyarakat
tanpa budaya itu juga tidak mungkin. Dalam komunikasi antarbudaya, seseorang
memiliki budaya yang berbeda dengan orang lain harus bisa mendalami dan
mempelajari bagaimana ia berkomunikasi dengan orang yang berbeda budaya. Komunikasi
antarbudaya ini tidak ada saling pengertian antar satu budaya dan lainnya maka
pastinya akan terjadi masalah. Dalam ilmu komunikasi antarbudaya, hal utama
adalah sumber dan penerimanya berasal dari budaya yang berbeda. Perbedaan
kultur dari orang-orang yang berkomunikasi ini juga menyangkut kepercayaan,
nilai, serta berperilaku kultur di lingkungan mereka. Perbedaan budaya tidak
menjadi halangan untuk satu sama lain menjalin hubungan (relationship),
yang terpenting adalah saling memahami (understanding), saling
beradaptasi (adaptation) dan saling bertoleransi (tolerance).
Kunci utama dari pergaulan antarbudaya adalah tidak menilai orang lain yang
berbeda budaya dengan menggunakan penilaian budaya sendiri.
Berbicara komunikasi tentunya banyak
pengertian yang akan mudah ditemukan. Meskipun bermacam-macam definisi
komunikasi, namun arti atau inti dari definisi tetap sama. Pada
hakikatnya komunikasi adalah proses pernyataan manusia, yang dinyatakan
itu adalah pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan
menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya. Adapun komunikasi antarbudaya
merupakan proses komunikasi yang dilatarbelakangi budaya yang berbeda,
yang keberhasilan proses komunikasi tentu saja tidak bisa lepas dari
unsur unsur komunikasi antarbudaya. Seperti halnya proses komunikasi yang
mempunyai unsur-unsur dalam komunikasi. Dakwah pada umumnya, penyampaian
pesan dari da‟i kepada mad‟u
dengan menggunakan berbagai macam media dan metode agar tercapai tujuan dakwahnya.
Akan tetapi, yang membedakan pembahasan dakwah disini, dakwah yang berasal
dari latar belakang yang berbeda, misalnya perbedaan budaya antara da’i dan mad’u. Dakwah
inilah yang disebut dengan dakwah lintas budaya. Dalam pertemuan ini kita akan
kaji secara mendalam tentang dakwah lintas budaya (lintas etnik, ras, &
bangsa). Dalam dakwah lintas budaya, keragaman merupakan tantangan bagi da‟i
supaya mampu meramu pesan-pesan dakwah yang lebih bijaksana dengan
mempertimbangkan kondisi positif budaya mad‟u termasuk memperhatikan
media dan metode yang dianggap bisa mendekatkan antara da’i dan mad’u.
Komunikasi adalah salah satu syarat
berlangsungnya hubungan antar manusia atau iteraksi sosial antar sesama
makhluk. Oleh karena itu tidak heran bahwa kegiatan komunikasi sudah biasa terjadi
dalam lingkungan hidup manusia. Dengan begitu istilah manusia adalah makhluk
sosial sangtalah dibenarkan, karna manusia tidak bisa hidup sendiri mereka
membutuhkan makhluk lain nya dalam melangsungkan kehidupan sosial. Banyak ragam
dalam komunikasi, yaitu ;
1. Komunikasi
Antarbudaya, ialah kegiatan komunikasi yang memiliki dua latar belakang budaya
berbeda. Secara istilah luasnya dapat diartikan komunikasi antar budaya,
bangsa, suku, juga ras. Sedangkan dalam istilah individu diartikan komunikasi
antar kepribadian yang memiliki perbedaan kebiasaan. Namun komunikasi
antarbudaya sering terjadi konflik juga persepsi, karna ada beberapa budaya
tertentu yang memiliki makna bereda, seperti bersendawa setelah makan. Dalam
budaya tertentu bersendawa merupakan sikap pujian atas makanan yang enak juga
lezat, sedangkan budaya lainnya bersendawa adalah sikap atau prilaku yang
kurang sopan. Maka solusi terbaik dalam berkomunikasi antarbudaya ialah
mempelajari budaya setempat dan meningkatkan sikap toleransi.
2. Komunikasi dalam ilmu
lain:
a. Komunikasi
politik, komunikasi yang melibatkan pesan-pesan politik atau
yang berhubungan dengan politik, yang berkaitan dengan hukum, kekuasaan,
jabatan dan kebijakan pemerintah. Dengan pengertian ini, sebagai sebuah
ilmu terapan, komunikasi politik bukanlah hal yang baru. Komunikasi
politik juga bisa dipahami sebagai komunikasi antara "yang
memerintah" dan "yang diperintah".
b. Komunikasi
kesehatan, komunikasi yang terjadi antara para medis.
c. Komunikasi
terapetik, komunikasi tidak hanya berlaku para medis, melinkan komunikasi
tersebut bisa dilakukan bagi para terapis atau anggotanya.
Komunikasi merupakan sesuatu yang sangat penting bagi perawat dalam
berinteraksi dengan pasien.
d. Komunikasi
dakwah, komunikasi yang dilakukan untuk menyampaikan hal-hal kebaikan menurut
ajaran Islam yang sesuai denga syariat, aqidah juga akhlak.
e. Komunikasi
krisis dan bencana, proses komunikasi yang dilakukan dalam penanganan bencana,
seperti covid19. Strategi dan taktik komunikasi yang digunakan organisasi
ketika menghadapi krisis ini dapat memperbaiki citra dan reputasi pasca krisis.
3. Komunikasi
trasendental, komunikasi yang terjadi antara manusia dengan Tuhannya dimana
alur komunikasi nya satu arah (sembahyang, sholat dan berdoa).
4. Komunikasi
spiritual, proses komunikasi yang melibatkan unsur-unsur spiritual seperti
perasaan atau rasa saat berbicara berkomunikasi dengan Tuhannya dan makhluk-makhluknya.
Proses komunikasi terjadi dengan alur dua arah, maksudnya tahap yang lebih
tinggi ialah dalam mencapai konektifitas yang solid dengan sang Pencipta dan
ciptaan nya yang lain.
5. Komunikasi
supranatural, merupakan proses komunikasi yang terjadi dengan makhluk-makhluk
astral dengan tujun secara mayoritas negative. Komunikasi tersebut sering
terjadi kesalahpahaman antara spiritual dengan supranatural.
Masyarakat Indonesia diwarnai oleh
berbagai macam perbedaan sebagai akibat dari kondisi kewilayahan, suku bangsa,
budaya, agama dan adat istiadat. Faktor penyebab keberagaman masyarakat Indonesia
antara lain: Letak strategis wilayah Indonesia, Kondisi negara kepulauan,
Perbedaan kondisi alam, Keadaan transportasi dan komunikasi dan Penerimaan
masyarakat terhadap perubahan. Keberagaman masyarakat Indonesia memiliki dampak
positif sekaligus dampak negatif bagi diri sendiri, masyarakat, bangsa dan
negara.Dampak positif, keberagaman memberikan manfaat bagi perkembangan dan
kemajuan. Sedangkan dampak negatifnya mengakibatkan ketidak harmonisan bahkan
perpecahan bangsa dan negara.
Sedangkan, keberagaman Bhineka Tunggal
Ika memiliki makna yaitu adanya keberaganman tersebut akan menjadi modal sosial
yang besar untuk membangun bangsa dan negara. Sebaliknya, bila kebergaman
tersebut tidak dapat dikelola dengan baik dan tidak dalam bingkai Bhineka
Tunggal Ika, maka dapat menjadi penyebab timbulnya konflik yang membahayakan
keutuhan bangsa dan negara Indonesia. Dengan demikian, semboyan Bhinneka
Tunggal Ika dipergunakan sebagai upaya mempertahankan persatuan dan kesatuan
bangsa Indonesia. Meskipun berbeda-beda suku bangsa, adat istiadat, ras dan
agama, masyarakat Indonesia tetap bersatu dalam perjuangan mengisi kemerdekaan.
Untuk mewujudkan cita-cita negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan
makmur. Keberagaman bukan unsur perpecahan namun justru yang menciptakan
kesatuan bangsa melalui semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Kesatuan adalah upaya
untuk mempersatukan perbedaan suku, adat istiadat, ras dan agama untuk menjadi
satu yaitu bangsa Indonesia. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika berarti berbeda-beda
tetapi tetap satu. Makna BhinnekTunggal Ika adalah meskipun berbeda-beda tetapi
pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap satu kesatuan. Semboyan ini
menggambarkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang memiliki keberagaman
suku bangsa, budaya, bahasa daerah, agama dan kepercayaan, ras maupun Merawat
Bhinneka Tunggal Ika.
Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa
yang majemuk, ditandai dengan banyaknya etnis, suku, agama, bahasa, budaya, dan
adat-istiadat. Untuk persoalan agama, negara Indonesia bukanlah sebuah negara
teokrasi, melainkan secara konstitusional negara mewajibkan warganya untuk
memeluk satu dari agama-agama yang diakui eksistensinya sebagaimana tercantum
di dalam pasal 29 ayat (1) dan (2) UUD 1945. Negara memberi kebebasan kepada
penduduk untuk memilih salah satu agama yang telah ada di Indonesia yaitu agama
Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Budha dan Konghuchu.
Kenyataan ini dengan sendirinya memaksa negara untuk terlibat dalam menata
kehidupan beragama. Kerukunan hidup umat beragama merupakan suatu sarana yang
penting dalam menjamin integrasi nasional, sekaligus merupakan kebutuhan dalam
rangka menciptakan stabilitas yang diperlukan bagi proses pencapaian masyarakat
Indonesia yang bersatu dan damai. Kerjasama yang rukun dapat terjadi apabila
diantara para pemeluk agama merasa saling membutuhkan, saling menghargai
perbedaan, saling tolong menolong, saling membantu dan mampu menyatukan
pendapat atau istilah lainnya memiliki sikap toleransi.
Sikap toleransi adalah kemampuan hidup
dengan sesuatu (termasuk sikap dan situasi oranglain) yang tidak anda sukai,
toleransi tidak hanya untuk antar agama melainkan antar ras, etnis juga bangsa.
Kita tidak menyukinya karena hal ini berbeda dengan apa yang biasa anda
lakukan., tidak sesuai dengan nilai yang kita pegang atau tradisi tempat kita
dibesarkan. Terkadang kita memang harus hidup seperti itu, agar kita mengalami
kesulitan atau agar kita memahami penyebab nya yang membuat orang lain
melakukan apa yang tidak kita sukai dan menganggapnya sebagai sesuatu yang
wajar dalam situasi nya. Konflik akan terjadi sewaktu-waktu sehingga
pengembangan diri terhambat. Namun, memberi banyak sikap toleransi tidaklah
berbahaya. Menurut ajaran Islam, toleransi bukan saja terhadap sesama manusia,
tetapi juga terhadap alam semesta, binatang, dan lingkungan hidup. Dengan makna
toleransi yang luas semacam ini, maka toleransi antar-umat beragama dalam Islam
memperoleh perhatian penting dan serius. Apalagi toleransi beragama adalah
masalah yang menyangkut eksistensi keyakinan manusia terhadap Allah. Ia begitu
sensitif, primordial, dan mudah membakar konflik sehingga menyedot perhatian
besar dari Islam. Makalah berikut akan mengulas pandangan Islam dan sosiologis
tentang toleransi. ini dilakukan baik pada tingkat paradigma, doktrin, teori
maupun praktik toleransi dalam kehidupan manusia.
Islam memiliki konsep yang jelas.
“Tidak ada paksaan dalam agama” , “Bagi kalian agama kalian, dan bagi kami
agama kami” adalah contoh populer dari toleransi dalam Islam. Selain ayat-ayat
itu, banyak ayat lain yang tersebar di berbagai Surah. Juga sejumlah hadis dan
praktik toleransi dalam sejarah Islam. Fakta-fakta historis itu menunjukkan
bahwa masalah toleransi dalam Islam bukanlah konsep asing. Toleransi adalah
bagian integral dari Islam itu sendiri yang detail-detailnya kemudian
dirumuskan oleh para ulama dalam karya-karya tafsir mereka. Kemudian rumusan-rumusan
ini disempurnakan oleh para ulama dengan pengayaan-pengayaan baru sehingga
akhirnya menjadi praktik kesejarahan dalam masyarakat Islam. Pikiran Islam yang
mendukung sebuah teologi toleransi adalah keyakinan kepada sebuah agama fitrah,
yang tertanam di dalam diri semua manusia, dan kebaikan manusia merupakan
konsekuensi alamiah dari prinsip ini. Dalam hal ini, alQur’an menyatakan yang
artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu ke arah agama menurut cara (Allah); yang
alamiah sesuai dengan pola pemberian (fitrah) Allah, atas dasar mana Dia
menciptakan manusia…”
Kerukunan Hidup Umat Beragama, berarti
perihal hidup rukun yaitu hidup dalam suasana baik dan damai, tidak bertengkar;
bersatu hati dan bersepakat antar umat yang berbeda-beda agamanya; atau antara
umat dalam satu agama. Dalam terminologi yang digunakan oleh Pemerintah secara
resmi, konsep kerukunan hidup beragama mencakup 3 kerukunan. yaitu :
kerukunan intern umat beragama, kerukunan antar umat yang
berbeda-beda agama, dan kerukunan antara (pemuka) umat beragama dengan
Pemerintah. Upaya mewujudkan kerukunan hidup beragama tidak terlepas dari
faktor penghambat dan penunjang. Faktor peng¬hambat kerukunan hidup beragama
selain warisan politik penjajah juga fanatisme dangkal, sikap kurang
bersahabat, cara-cara agresif dalam dakwah agama yang ditujukan kepada orang
yang telah beragama, pendirian tempat ibadah tanpa mengindahkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku, dan pengaburan nilai-nilai ajaran agama antara
suatu agama dengan agama lain; juga karena munculnya berbagai sekte dan faham
keagamaan kurangnya memahami ajaran agama dan peraturan Pemerintah dalam hal
kehidupan beragama. Faktor-faktor pendukung dalam upaya kerukunan hidup
beragama antara lain adanya sifat bangsa Indonesia yang religius, adanya nilai-nilai
luhur budaya yang telah berakar dalam masyarakat seperti gotong royong, saling
hormat menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya,
kerjasama di kalangan intern umat beragama, antar umat beragama dan antara umat
beragama dengan Pemerintah.
Dalam kehidupan multikultural
diperlukan pemahaman dan kesadaran multibudaya yang menghargai perbedaan,
kemajemukan dan sekaligus kemauan berinteraksi dengan siapapun secara adil.
Menghadapi keragaman, maka diperlukan sikap moderasi, bentuk moderasi ini bisa
berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Sikap moderasi berupa
pengakuan atas keberadaan pihak lain, pemilikan sikap toleran, penghormatan
atas perbedaan pendapat, dan tidak memaksakan kehendak dengan cara kekerasan.
Diperlukan peran pemerintah, tokoh masyarakat, dan para penyuluh agama untuk
mensosialisasikan,menumbuhkembangkan wawasan moderasi beragama terhadap
masyarakat Indonesia untuk terwujudnya keharmonisan dan kedamaian.
DAFTAR PUSTAKA
Anugrah Danang
dan Winny Kresnowiati, Komunikasi Antarbudaya: Konsep dan Aplikasinya. Jakarta:
Permata. 2007
Liliweri,
Alo. Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
2007
Rahmat,
Jalaluddin. Psikiologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rusdakarya. 1999
