Senin, 17 Mei 2021
MENGENAL UNSUR-UNSUR KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DALAM BERDAKWAH
Jumat, 07 Mei 2021
Dakwah Dalam kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya
Dakwah Dalam kajian
Pola Komunikasi Lintas Budaya
Oleh:
Novi Fitriatul Hasanah
Nim:
B01219041
Secara etimologis
kata dakwah berarti memanggil, menyeru, memohon, mengajak. Sementara dakwah
secara istilah memiliki banyak arti, antara lain: Ibnu Taimiyah mengatakan dakwah
merupakan proses usaha untuk mengajak agar orang lain beriman kepada Allah,
percaya apa yang telah diberitakan oleh Rasulullah dan taat terhadap apa yang
telah diperintahkan. Al-Bahy al-Khauly, dakwah adalah usaha mengubah situasi
kepada yang lebih baik dan sempurna, baik terhadap individu maupun masyarakat. Saifuddin
Anshari berpendapat dakwah adalah segala yang mengubah suatu situasi kepada
situasi lain yang lebih baik menurut ajaran Islam. Dari pengertian yang berbeda
dapat disimpulkan bahwa dakwah merupakan upaya atau perjuangan untuk
menyampaikan ajaran agama yang benar kepada umat manusia dengan cara yang
simpatik, adil, jujur, tabah dan terbuka, serta menghidupkan jiwa mereka dengan
janji-janji Allah SWT tentang kehidupan yang membahagiakan, serta menggetarkan
hati mereka dengan ancaman-ancaman Allah SWT terhadap segala perbuatan tercela,
melalui nasehat-nasehat dan peringatanperingatan.[1]
Esensi dakwah
adalah mengubah segala penyembahan kepada selain Allah kepada tauhid, mengubah
semua jenis kondisi kehidupan yang timpang ke arah kondisi yang penuh dengan
ketenangan batin dan kesejahtraan lahir berdasarkan nilai-nilai Islam. Hal ini
dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu: pertama, komunikasi antarbudaya
sangat mendukung terlaksananya dakwah Islam melalui pendekatan komunikasi
dengan segala variasinya. Kedua, dakwah Islam menghadapi pergeseran tata nilai
harus mampu mengatasi perubahan-perubahan yang terjadi dalam faktor-faktor
penyebab terjadinya pergeseran nilai, meliputi kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi, perkembangan dan pertumbuhan ekonomi, perubahan politik, peranan kekuasaan
pemerintah, perubahan lingkungan bio-fisik dan pengaruh kebudayaan luar.
Ketiga, prospek Islam dalam menghadapi tantangan zaman harus memahami dan
mengetahui paling tidak ada tiga hal yang perlu diatasi secara tuntas yaitu
sosoekonomis, sains dan teknologi dan etis-religius.
Dalam
komunikasi antarbudaya yang ideal, kita akan mengharapkan banyak persamaan
dalam pengalaman dan persepsi. Tetapi karakter budaya cendrung memperkenalkan
kita kepada pengalaman-pengalaman yang tidak sama, dan oleh karenanya membawa
kita kepada persepsi yang berbeda pada eksternal. Ada tiga unsur sosio-budaya
mempunyai pengaruh yang besar pada persepsi, yaitu sistem kepercayaan, nilai
sikap pandangan dunia dan organisasi social. Menghadapi
berbagai macam dalam arti kemajemukan dalam segala hal, komunikasi antar bangsa
semakin terasa betapa pentingnya kita pahami, baik sebagai individu maupun
sebagai anggota masyarakat, diperlukan untuk mengatur tatakrama pergaulan antar
manusia. Sebab berkomunikasi dengan baik sesuai dengan budaya akan memberi
pengaruh langsung pada struktur keseimbangan seseorang dalam bermusyawarah.
Komunikasi
adalah proses penyampaian informasi-informasi, pesan-pesan, gagasan-gagasan
atau pengertian-pengertian dengan menggunakan lambing-lambang yang mengandung
arti atau makna, baik secara verbal maupun nonverbal dari seseorang atau
sekelompok orang, kepada seseorang atau sekelompok orang lain dengan tujuan
untuk mencapai saling pengertian dan/atau kesepakatan bersama. Budaya dan
komunikasi atau hubungan antarbudaya dan komunikasi adalah sangat penting
dipahami, karena salah satu yang ingin dihindari terjadinya persepsi yang
keliru atau pemberian makna yang berbeda pada objek sosial atau suatu pristiwa.
Budaya adalah suatu pola hidup yang menyeluruh. Budaya bersifat kompleks,
abstrak dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan prilaku komunikatif
tetapi ada unsur sosial budaya mempunyai pengaruh besar dalam membangun
persepsi yang dimaksudkan adalah: 1) sistem-sistem kepercayaan, nilai, sikap,
2) pandangan, 3) organisasi sosial.
Era sekarang
adalah era pluralism. Hal ini dapat dilihat fenomena yang ada : budaya, agama,
keluarga, ras, ekonomi, sosial, suku, pendidikan, bangsa, negara, belum lagi
apresiasi politik, semuanya menampakkan wajah yang pluralistis. Jadi hakikat
pluralis atau keanekaragaman adalah sebagai fitrah (sifat yang melekat secara
alamiah) bagi manusia. Karena Tuhan telah menciptakan manusia dalam keadaan
berbeda-beda. Atau dengan kata lain, bahwa sifat alamiah manusia adalah
berbeda, baik dalam bentuk fisik, pemikiran dan perbuatan. Maka agama dan
budaya manusia tentu juga menjadi berbeda-beda. Kenyataan tersebut jelas dapat
menimbulkan situasi dan suasana yang kurang menguntungkan bagi sebagian orang,
terutama bagi mereka yang terbiasa hidup di lingkungan budaya yang lebih
homogen dan mengandalkan mental interaksi hidupnya pada tradisi hegemoni
mayoritas. Perbedaan budaya dan pandangan subyektivitas terhadap budaya dan
kepentingan yang berbeda-beda sering memicu terjadinya konflik. Karena semakin
besar perbedaan budaya antara dua orang semakin besar pula perbedaan persepsi
mereka terhadap suatu realitas.vii Salah satu jalan untuk menyikapinya atas
kenyataan pluralitas ini adalah dengan cara dan sikap mengakui perbedaan,
kemudian saling mengenal.[2]
Prinsip dakwah
antarbudaya ialah sesuatu yang menjadi pegangan
atau acuan prediktif kebenaran yang menjadi dasar berpikir dan bertindak merealisasikan
bidang dakwah dengan mempertimbangkan aspek budaya dan keragamannya ketika
berinteraksi dengan mad’u dalam rentang ruang dan waktu sesuai perkembangan
masyarakat. Dengan demikian, penghayatan dan pengalaman agama yang benar
merupakan daya tangkal paling ampuh terhadap provokasi konflik antar agama,
etnis dan budaya. Pengamalan agama dalam masyarakat unsur budaya dapat tumbuh
dan berkembang melalui dakwah dengan mempertimbangkan aspek budaya. Adapun
prinsip dakwah di tengah masyarakat berbagai budaya ialah: Pertama,
prinsip universalitas. Universalitas dakwah disini bahwa objek dakwah Islam
adalah semua manusia tanpa mengenal batasan budaya, etnis dan sebagainya. Islam
memandang semua orang mempunyai kewajiban untuk mendengar bukti dan menerima
kebenaran. Kedua, prinsip liberation (pembebasan). Pembebasan disini
memiliki dua arti yaitu, 1) bagi yang melaksanakan tugas dakwah harus bebas
dari segala macam teror yang mengancam keselamatannya, terbebas dari segala
kekurangan materi untuk menghindari fitnah yang merusak citra benar yakin bahwa
kebenaran ini hasil penilaiannya sendiri. 2) Kebebasan agama. Ketiga, prinsip
rasionalitas. Pada abad modern ini adalah abad ilmu pengetahuan dan teknologi.
Segala aktivitas manusia berpangkal pada sejauh mana penggunaan rasionalitas
seseorang. Prinsip rasionalitas merupakan respons asasi terhadap masyarakat
yang menggunakan prinsip amal hidupnya dengan prinsip-prinsip rasional seperti
yang sedang terjadi pada masyarakat sekarang. Keempat, prinsip kearifan.
Prinsip ini sebagai suatu cara pendekatan dakwah yang mengacu pada kearifan
pertimbangan budaya, sehingga orang lain tidak merasa tersinggung atau merasa
dipaksa untuk menerima suatu gagasan atau ide tertentu terutama menyangkut
perubahan diri dan masyarakat ke arah yang lebih baik. Kelima, prinsip
penegakan etika. Prinsip penegakan etika atas dasar kearifan budaya yang berpedoman
pada teori Qur’ani yaitu prinsip moral dan etik yang diturunkan dari al-Qur’an
dan Sunnah tentang nilai baik dan buruk tentang keharusan perilaku etika
melaksanakan dakwah Islam termasuk di dalamnya dakwah antar budaya.
Oleh karena itu, prinsip dakwah antarbudaya adalah pedoman dasar dalam menyampaikan dakwah pada masyarakat yang terdiri dari berbagai macam budaya, sehingga dakwah yang disampaikan kepada mereka dapat diterima.Pluralitas budaya adalah merupakan keniscayaan yang tidak bisa dielakkan. Perbedaan yang ada dalam kehidupan manusia seperti perbedaan budaya bukan menjadi penghalang dalam pelaksanaan dakwah, bahkan bisa menjadi bahan materi dakwah dengan mengupayakan agar budaya yang berkembang di tengah-tengah masyarakat tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam, dengan berpedoman pada prinsip-prinsip dakwah yang telah diuraikan.[3]
Seiring berjalannya waktu dengan berbagai perkembangan manusia, maka komunikasi yang sebelumnya menjadi alat bantu bagi manusia untuk menyampaikan gagasan dan keinginan, mulai berkembang menjadi ilmu pengetahuan yang bersifat multi-disipliner. Komunikasi yang efektif menjadi keinginan semua orang. dengan komunikasi efektif tersebut, pihak-pihak yang terlibat di dalamnya memperoleh manfaat sesuai yang diinginkan sebagaimana firman Allah (QS.An-Nahl, 6 :125) yang artinya : “Serulah (manusia) kepada jalan Allah dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang bijaksana. Sesungguhnya Allah dialah yang lebih baik mengetahui tentang siap yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui dari orang-orang yang mendapat petunjuk”. Pada kehidupan sehari-hari manusia tidak lepas dari segala macam kesibukan. Selama mereka masih hidup dan ingin memenuhi kebutuhannya maka aktivitas mereka tidak akan berhenti. Tindakan yang mereka lakukan tentu saja sesuai dengan tujuan masing-masing dan hal ini harus ada solusi maupun jalan keluarnya.
Kedudukan manusia sebagai makhluk sosial yang juga berbudaya adalah manusia itu tidak bisa hidup sendiri, pasti membutuhkan orang lain, dari lahir sampai mati juga tetap memerlukan bantuan dari orang lain (tidak terbatas pada keluarga, saudara, maupun teman). Oleh karena itu manusia diciptakan dengan beberapa kemampuan, keahlian, dan keterampilan yang berbeda-beda untuk saling melengkapi, dikomunikasikan dan saling menolong. Sebagai makhluk yang berbudaya, maka misi dakwah melalui pendekatan dakwah antar budaya manusia selalu hidup bersama dan tidak dapat hidup sendiri dalam memenuhi kebutuhannya. Sejak lahir manusia selalu berinteraksi dengan orang lain. ini dapat dilihat dalam kehidupan kita sehari-hari, semua kegiatan yang dilakukan manusia selalu berhubungan dengan orang lain.[4]
[1] Amrullah Achmad, Dakwah Islam dan Perubahan Sosial, suatu kerangka pendekatan dan permasalahan, dalam Amrullah Achmad (ed), Dakwah dan Perubahan Sosial, PLP2M, Yogyakarta,1983, hlm. 2
[2] M. Nasir Tamara
& Elza Peldi Taher, Agama dan Dialog Antar Peradaban (Jakarta, Paramadina,
1996), h.3.
DAKWAH ISLAM BERBASIS MULTIKULTURAL
DAKWAH ISLAM BERBASIS MULTIKULTURAL Makalah Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi Dalam Memenuhi Salah Satu Tugas Dakwah Mu...
-
DAKWAH ISLAM BERBASIS MULTIKULTURAL Makalah Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi Dalam Memenuhi Salah Satu Tugas Dakwah Mu...
-
Dakwah Dalam kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya Oleh: Novi Fitriatul Hasanah Nim: B01219041 Secara etimologis kata dak...
-
DAKWAH ANTAR ETNIK, RAS dan BANGSA Oleh: Novi Fitriatul Hasanah Nim: B01219041 Budaya dan masyarakat ibarat dua sisi mata uang logam yang...
