Senin, 15 Maret 2021

Novi Fitriatul Hasanah

DAKWAH DALAM MASYARAKAT BERBASIS MULTIKULTURAL
Oleh : 
 Novi Fitriatul Hasanah, B01219041
Denpasar, 04 April 2021 

PENDAHULUAN

Sejarah mencatat bahwa proses Islamisasi di Nusantara dilakukan para da’i terdahulu berjalan secara damai, persuasif tanpa kekerasan, sehingga Islam secara berlahan menjadi agama mayoritas penduduk Nusantara yang awalnya sudah memeluk agama Hindu, Budha, dan aliran kepercayaan. Penghargaan, penggunaan seni, adat istiadat, dan tradisi kebudayaan lokal menjadi faktor penentu keberhasilan dakwah, bukan kekerasan dan kekuatan militer. Kini pasca reformasi wajah dakwah mengalami pergeseran, banyak kegiatan dakwah yang dilakukan saling memperolok satu dengan yang lain, merasa paling benar sendiri, kaku tidak toleran dan mudah menyalahkan orang lain yang berbeda paham. Bahkan ada yang menggunakan cara kekerasan seperti swiping, merusak tempat ibadah, dan menghalangi orang lain untuk ibadah.

Disi lain dalam dakwah, komunikasi merupakan kebutuhan dasar, urat nadi dan ciri eksistensi kehidupan manusia. Tanpa komunikasi, manusia akan sulit mengungkapkan isi hati, perasaan, keinginan, pendapat dan menjalankan hubungan silaturahmi dan melakukan dakwahnya. Dalam dakwah multikultural di ranah komunikasi lintas budaya dalam Mata Kuliah kita, diartikulasikan sebagai kegiatan dakwah multikultural dengan komunikasi berlandaskan agama (Islam). Dari realitas ini maka komunikasi lebih bersifat Komunikasi Islam (komunikasi berbasis etika islam), yaitu proses menyampaikan pesan dari komunikator kepada komunikan dengan menggunakan etika dan prinsip-prinsip Islam, materi atau isi pesan (content) komunikasi bersumber dari Al-Quran dan Hadis Nabi saw, sehingga komunikator dalam koumunikasi Islam harus memiliki integritas dan menjunjung tinggi moralitas dalam menyampaikan pesan. Enam prinsip dalam komunikasi Islam, yaitu: Qaulan Sadida, Qaulan Baligha, Qulan Ma’rufa, Qaulan Karima, Qaulan Layinan, dan Qaulan Maysura. Sementara komunikasi lintas budaya (cross cultural communication) ini, diartikan sebagai suatu proses pengiriman dan penerimaan pesan di antara peserta komunikasi yang berbeda latar belakang budaya, bisa berbeda bangsa, kelompok ras, atau komunitas bahasa. Komunikasi Islam dalam komunikasi lintas budaya mengandung maksud bahwa umat Islam dalam berkomunikasi harus menjunjung tinggi nilai kejujuran, kebenaran, dan kesantunan serta senantiasa mempertimbangkan keragaman dan pluralitas budaya masyarakat sehingga terwujud komunikasi yang komunikatif dan humanis.

Secara faktual, Indonesia adalah bangsa yang memiliki keanekaragaman suku, bahasa, etnis, golongan, warna kulit, dan agama yang menjadi aset bangsa yang akan tetap bersatu membentuk harmoni di dalam wadah keindonesiaan. Secara teologis, keanekaragaman fenomena kehidupan manusia dalam berbagai aspeknya merupakan kehendak Allah yang harus disikapi dengan penuh kearifan. Dalam kajian teori politik kontemporer, kebinekaan masyarakat manusia dalam segala aspeknya dinamakan juga masyarakat multikultural. Namun tidak jarang potret multi budaya, bahasa, suku, etnis, golongan, dan agama dalam suatu bangsa rentan menimbulkan konflik sosial di tengah masyarakat. Dalam konteks keberagamaan, sebagian umat beragama senantiasa mensosialisasikan ajaran-ajaran agama mereka kepada masyarakat yang plural dengan tidak mengindahkan wajah pluralitas kehidupan masyarakat dalam segala aspeknya.


Sementara multikultural, secara sederhana dapat dikatakan sebagai pengakuan atas adanya pluralitas budaya. Multikultural yang menjadi paham multikulturalisme pada hakikatnya mengakui akan martabat manusia yang hidup di dalam komunitasnya dengan kebudayaannya masing-masing yang spesifik. Dengan demikian, setiap individu merasa dihargai dan sejalan dengan itu pula merasa bertanggung jawab untuk hidup bersama di dalam komunitasnya. Pengingkaran suatu masyarakat terhadap kebutuhan untuk diakui (needs for recognition) merupakan akar dari ketimpangan-ketimpangan dalam berbagai bidang kehidupan.

Dakwah multikultural merupakan upaya dalam menciptakan keharmonisan di tengah-tengah masyarakat yang beragam dan tetap mampu mengendalikan diri dan bertoleransi terhadap segala bentuk perbedaan yang tidak mungkin disamakan dalam berbagai aspeknya. Sedangkan dakwah dengan pendekatan multikulturalisme adalah sebuah pemikiran dakwah yang concern pada penyampaian pesan-pesan Islam dalam konteks masyarakat plural dengan cara berdialog untuk mencari titik temu atau kesepakatan terhadap hal-hal yang mungkin disepakati, dan berbagai tempat untuk hal-hal yang tidak dapat disepakati. Basis dakwah multikultural sebenarnya terdapat dalam kitab suci AlQur’an itu sendiri yang menegaskan bahwa fakta multikultural umat manusia yang beragam dan berbeda satu sama lain merupakan kehendak sekaligus sunatullah bagi kehidupan umat manusia sepanjang sejarah. Dengan kesadaran tentang adanya keragaman dan perbedaan itu, umat manusia dituntut untuk berlomba-lomba dalam kebajikan, sehingga akan terjadi kreativitas dan peningkatan kualitas kehidupan umat manusia dalam berbagai aspeknya demi kemaslahatan hidup bersama.

Dari sini, dakwah multikultural sejatinya berangkat dari pandangan klasik dakwah kultural, yakni pengakuan doktrinal Islam terhadap keabsahan eksistensi kultur dan kearifan lokal yang tidak bertentangan dengan prinsip tauhid. Hanya saja dakwah multikultural berangkat lebih jauh dalam hal intensitas atau keluasan cakupan kulturnya. Kalau dakwah paradigma kultural hanya fokus pada persoalan bagaimana persoalan Islam dapat disampaikan lewat kompromi dengan budaya tertentu, maka dakwah multikultural memikirkan bagaimana pesan Islam ini disampaikan dalam situasi masyarakat yang plural, tanpa melibatkan unsur “monisme moral” yang bisa merusak pluralitas budaya dan keyakinan itu sendiri. Pendekatan multikulturalisme mencoba melihat yang banyak itu sebagai keunikan tersendiri dan tidak seharusnya dipaksa untuk disatukan, tetapi tetap berjalan harmonis dalam keragaman. Intinya, pendekatan multikulturalisme dalam dakwah berusaha untuk mencapai dua hal, yaitu titik temu dalam keragaman, dan toleransi dalam perbedaan. Dakwah dengan pendekatan multikulturalisme adalah sebuah pemikiran dakwah yang concern pada penyampaian pesan-pesan Islam dalam konteks masyarakat plural dengan cara berdialog untuk mencari titik temu atau kesepakatan terhadap halhal yang mungkin disepakati, dan berbagai tempat untuk hal-hal yang tidak dapat disepakati.

b.      b. Ruang Lingkup Dakwah Multikultural

Ruang lingkup dakwah multikultural terdapat dalam kajian ilmu dakwah antara lain:

a.       Menerangkan dasar-dasar adanya interaksi simbolik dari dai ke mad’u yang berlatarbelakang budaya dan sesuai dengan rentangan perjalanan dakwah Nabi dan Rasul.

b.      Menelaah unsur-unsur dakwah dengan mempertimbangkan aspek budaya yang berhubungan dengan unsur dai, seperti: pesan, metode, media, mad’’u, dimensi ruang serta waktu yang mewadahi berjalan suatu dakwah

c.       Mengkaji karakteristik manusia baik posisinya menjadi dai maupun mad’u melalui metodologi dalam antropologi

d.      Mengkaji upaya dakwah yang dilakukan oleh masing-masing etnik dan antar etnik, baik secara lokal maupun nasional, regional maupun internasional

e.       Mengkaji problem yang ditimbulkan oleh pertukaran antarbudaya dan upaya solusi yang dilakukan untuk mempertahankan eksistensi jati diri budaya masing-masing

Adapun konsep dakwah multikural ialah kegiatan menyeru kepada jalan Allah melalui pendekatan kultural sebagai upaya menjalin kerukunan antar umat beragama. Yang dimaksud dengan pendekatan kultural adalah cara atau langkah yang dilakukan oleh seorang mubaligh untuk mencapai suatu tujuan dengan membangun moral masyarakat melalui kultur mitra dakwah. Salah satu pola dakwah multikultural yang dikembangkan oleh seorang mubaligh ”Ustadz Hasan Basri” ialah berupaya untuk memberikan solusi kepada masyarakat untuk hidup rukun dan berdampingan satu sama lain tanpa melihat latarbelakang pemikiran dan ideologi, sehingga dapat mengatasi problematika kemanusiaan secara bersama. Maka dapat disimpulkan pola yang dikembangkan dalam aktivitas dakwah multikultural sebagai berikut:

1.      Pendekatan budaya sebagai solusi bagi masyarakat agar hidup rukun serta berdampingan

2.      Pendekatan sosial sebagai upaya mengatasi problematika kemanusiaan secara bersama

c.       cBasis dan Pendekatan Dakwah Multikultural

Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya, multikultural merujuk kepada konsep kebinekaan yang bersifat multi dimensi yang meliputi aspek bahasa, warna kulit, budaya, suku, etnis, bangsa, dan agama. Bila merujuk kepada Al-Qur’an, kita akan menemukan bahwa fakta multikultural umat manusia merupakan kehendak sekaligus sunnatullah bagi kehidupan umat manusia sepanjang sejarah. Kita dapat melihat beberapa ayat berikut, sebagai basis dakwah multikultural. QS. Al-Hujarat: 13 “Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mengenal”.

Penggalan pertama ayat di atas sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan adalah pengantar untuk menegaskan bahwa semua manusia derajat kemanusiaannya sama di sisi Allah, tidak ada perbedaan antara satu suku dengan yang lain. Tidak ada juga berbedaan pada nilai kemanusiaan antara laki-laki dan perempuan karena semua diciptakan dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Pengantar tersebut mengantar pada kesimpulan yang disebut oleh penggalan terakhir ayat ini yakni “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa”. Karena itu berusahalah untuk meningkatkan ketakwaan agar menjadi yang termulia di sisi Allah. Secara global, ayat ini ditujukan kepada umat manusia seluruhnya, tak hanya kaum muslim. Sebagai manusia, ia diturunkan dari sepasang suami-istri. Suku, ras dan bangsa mereka merupakan nama-nama untuk memudahkan saja, sehingga dengan itu kita dapat mengenali perbedaan sifat-sifat tertentu. Dihadapan Allah mereka semua satu, dan yang paling mulia ialah yang paling bertakwa. Allah Swt menciptakan manusia berbeda-beda suku, ras, dan bangsanya supaya saling mengenal. Melalui perkenalan itu mereka saling belajar, saling memahami, saling mengerti dan saling memperoleh manfaat, baik moril maupun materiil. Perkenalan itu niscaya menginspirasi semua pihak untuk menjadi lebih baik dari yang lain dan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Berdasarkan kebinekaan tersebut, tidak seorang pun berhak memaksakan keseragaman dalam hal apapun, termasuk dalam aspek keyakinan. Dalam surat Yunus ayat 99-100 Allah menegaskan prinsip dasar tersebut. Allah menganugerahkan manusia potensi akal agar mereka menggunakannya untuk memilih. Dengan alasan seperti di atas dapat disimpulkan bahwa segala bentuk pemaksaan terhadap manusia untuk memilih suatu agama tidak dibenarkan oleh AlQur’an, karena yang dikehendaki oleh Allah adalah iman yang tulus tanpa pamrih dan paksaan. Seandainya paksaan itu diperbolehkan, maka Allah sendiri yang akan melakukan dan seperti dijelaskan dalam ayat di atas Allah tidak melakukannya. Tugas para Nabi hanyalah untuk mengajak dan memberikan peringatan tanpa paksaan. Manusia akan dinilai terkait dengan sikap dan respon terhadap seruan para Nabi tersebut.

Memang perselisihan dan perbedaan yang terjadi pada masyarakat manusia dapat menimbulkan kelemahan serta ketegangan antar mereka, tetapi dalam kehidupan ini ada perbedaan yang tidak dapat dihindari, yaitu ciri dan tabiat manusia yang pada gilirannya menimbulkan perbedaan-perbedaan dalam banyak hal. Belum lagi perbedaan lingkungan dan perkembangan ilmu yang juga memperluas perbedaan mereka. Ini semua merupakan kehendak Allah Swt. dan tentu diperlukan oleh manusia bukan saja sebagai makhluk sosial, tetapi juga sebagai hamba Allah yang harus mengabdi kepada-Nya dan menjadi khalifah di bumi. Kalau Allah Swt. berhendak menjadikan semua manusia sama, tanpa perbedaan, maka Dia menciptakan manusia seperti binatang tidak dapat berkreasi dan melakukan perkembangan, baik terhadap dirinya apalagi lingkungannya. Tapi itu tidak dihendaki Allah, karena Dia menugaskan manusia menjadi khalifah. Dengan perbedaan itu, manusia dapat berlomba-lomba dalam kebajikan, dan dengan demikian akan terjadi dan peningkatan kualitas. Karena hanya dengan perbedaan dan perlombaan yang sehat, kedua hal itu akan tercapai. Antara lain untuk itulah manusia dianugerahi-Nya kebebasan bertindak, memilah dan memilih.

Dakwah multikultural mengajukan lima macam pendekatan pendekatan. Pertama, berbeda dengan dakwah konvensional yang menempatkan konversi iman sebagai bagian inti dari dakwah, pendekatan dakwah multikultural menilai bahwa dakwah tidak lagi secara eksplisit dimaksudkan untuk mengislamkan umat non muslim. pendekatan dakwah multikultural menekankan agar target dakwah lebih diarahkan pada pemberdayaan kualitas umat dalam ranah internal, dan kerja sama serta dialog antar-agama dan budaya dalam ranah eksternal. Kedua, dalam ranah kebijakan publik dan politik, dakwah multikultural menggagas ide tentang kesetaraan hak-hak warga negara (civil right), termasuk hak-hak kelompok minoritas. Pendekatan dakwah multikultural berusaha memberi dukungan moral dan legislatif atas budaya politik demokrasi. Melalui budaya demokrasi ini, dakwah multikultural berusaha agar kebijakan atau produk politik yang bias etno-religius dapat dieliminasi dan digantikan dengan kebijakan-kebijakan politik yang ramah dan peka terhadap keragaman etnis dan keyakinan masyarakat.

Ketiga, dalam ranah sosial, dakwah multikultural memilih untuk mengambil pendekatan kultural ketimbang harakah (salafi jahidy). Seperti telah disinggung, bahwa pendekatan multikultural sejatinya merupakan kelanjutan dari pendekatan dakwah kultural dengan perbedaan pada tingkat keragaman dan pluralitasnya. Keempat, dalam konteks pergaulan global, dakwah multikultural menggagas ide dialog antar-budaya dan keyakinan (intercultur-faith understanding). Dalam merespons fenomena globalisasi yang sedikit demi sedikit menghapus sekat-sekat antar-budaya dan agama sekarang ini, dakwah multikultural, seperti diusulkan Mulkan, merasa perlu membangun “etika global” yang digali dari sumber etika kemanusiaan universal yang terdapat dalam seluruh ajaran agama. Untuk tujuan tersebut, pendekatan dakwah multikultural melalui agendanya, antara lain dengan menafsir ulang sejumlah teks-teks keagamaan yang bias eksklusivisme, misalnya dengan metode hermeneutika.


d.      dPeranan Dakwah Dalam Komunikasi Antarbudaya

Esensi dakwah adalah mengubah segala penyembahan kepada selain Allah kepada tauhid, mengubah semua jenis kondisi kehidupan yang timpang ke arah kondisi yang penuh dengan ketenangan batin dan kesejahtraan lahir berdasarkan nilai-nilai Islam. Hal ini dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu: pertama, komunikasi antarbudaya sangat mendukung terlaksananya dakwah Islam melalui pendekatan komunikasi dengan segala variasinya. Kedua, dakwah Islam menghadapi pergeseran tata nilai harus mampu mengatasi perubahan-perubahan yang terjadi dalam faktor-faktor penyebab terjadinya pergeseran nilai, meliputi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan dan pertumbuhan ekonomi, perubahan politik, peranan kekuasaan pemerintah, perubahan lingkungan bio-fisik dan pengaruh kebudayaan luar. Ketiga, prospek Islam dalam menghadapi tantangan zaman harus memahami dan mengetahui paling tidak ada tiga hal yang perlu diatasi secara tuntas yaitu sosoekonomis, sains dan teknologi dan etis-religius.

Perkembangan dunia saat ini tampak semakin maju pada apa yang disebut sebagai suatu global village (desa dunia). Salah satu implikasinya adalah semakin meningkatnya kontak komunikasi dan hubungan antar Bangsa dan Negara. Dalam situasi yang demikian, mempelajari masalah-masalah komunikasi antarbudaya jelas menjadi semakin penting. Karena apabila masing-masing pihak yang terlibat di dalamnya mempunyai perbedaan dalam aspek-aspek tertentu, misalnya ideologi, orientasi dan gaya hidup, serta masing-masing pihak tidak mau memahami pihak lainnya, maka terjadi problema dan mungkin terjadi konflik, permusuhan, perpecahan dan lain-lain. Dari berbagai persoalan tersebut, menimbulkan kesadaran yaitu kesadaran internasional, kesadaran domestik atau dalam negeri dan kesadaran pribadi. Dalam komunikasi antarbudaya yang ideal, kita akan mengharapkan banyak persamaan dalam pengalaman dan persepsi. Tetapi karakter budaya cendrung memperkenalkan kita kepada pengalaman-pengalaman yang tidak sama, dan oleh karenanya membawa kita kepada persepsi yang berbeda pada eksternal. Ada tiga unsur sosio-budaya mempunyai pengaruh yang besar pada persepsi, yaitu sistem kepercayaan, nilai sikap pandangan dunia dan organisasi social. Sedangkan unsur-unsur budaya terdiri dari; sistem peralatan hidup, sistem pencaharian, sistem kemsyarakatan bahasa dan komunikasi, sistem pengetahuan, sistem religi dan sistem seni serta kesenian.

Menghadapi berbagai macam dalam arti kemajemukan dalam segala hal, komunikasi antar bangsa semakin terasa betapa pentingnya kita pahami, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat, diperlukan untuk mengatur tatakrama pergaulan antar manusia berkomunikasi dengan baik sesuai dengan budaya akan memberi pengaruh langsung pada struktur keseimbangan seseorang dalam bermusyawarah. Bahkan Hafid Cangara dalam bukunya Pengantar Ilmu Komunikasi menegaskan bahwa keberhasilan dan kegagalan seseorang dalam mencapai sesuatu yang diinginkan, banyak ditentukan oleh kemampuan berkomunikasi (Hafid Cangara, 1998: 4). Muhammad Thalhah Hasan dalam Bukunya 

Komunikasi adalah proses penyampaian informasi-informasi, pesan-pesan, gagasan-gagasan atau pengertian-pengertian dengan menggunakan lambing-lambang yang mengandung arti atau makna, baik secara verbal maupun nonverbal dari seseorang atau sekelompok orang, kepada seseorang atau sekelompok orang lain dengan tujuan untuk mencapai saling pengertian dan/atau kesepakatan bersama. Berbicara masalah budaya dan komunikasi atau hubungan antarbudaya dan komunikasi adalah sangat penting dipahami, karena salah satu yang ingin dihindari terjadinya persepsi yang keliru atau pemberian makna yang berbeda pada objek sosial atau suatu pristiwa. Budaya adalah suatu pola hidup yang menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan prilaku komunikatif tetapi ada unsur sosial budaya mempunyai pengaruh besar dalam membangun persepsi yang dimaksudkan adalah: 1) sistem-sistem kepercayaan (belief), nilai (value), sikap (attitude), 2) pandangan (world view), 3) organisasi sosial.

Dakwah multikultural akan berperan menjadi seleksi dan solusi terhadap dampak negatif dan memenagkan kekuatan negatif tersebut. Oleh karenanya dakwah multikultural menjadi kajian menarik dan menentang dalam bangunan Islam dan gerakan dakwah Islam. Kecenderungan dasar masyarakat terhadap kehidupan yang rentan terhadap konflik antar masyarakat. Kondisi demikian dalam dakwah merupakan bagian dari situasi dan kondisi mad’u, yaitu masyarakat yang mudah terkena konflik internal dan eksternal. Pertikaian antarumat Islam tidak akan terselesaikan. Karena secara teoritik, solusi probelematik dakwah pada masyarakat rentan konflik itu dapat ditempuh melalu pendekatan dakwah antarbudaya, yaitu proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antara da’i dan mad’u, dan keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi pada tingkat intra dan antarbudaya agar peran dakwah dapat tersampaikan dengan tetap terpeliharanya situasi damai. Dakwah antar budaya memiliki tiga metode, yaitu:

a.       Metode Istimbati, ialah suatu penalaran dalam menjelaskan obyek kajian dakwah antarbudaya dengan cara menurunkan isyarat-isyarat dari al-Qur’an dan hadist.

b.      Metode Iktibasti, ialah suatu penalaran dalam menjelaskan obyek kajian dakwah antarbudaya dengan cara meninjau pemikiran-pemikiran para pakar dakwah yang bersumber dari al-Qur’an dan hadist

c.       Metode Istiqroi, ialah suatu penalaran dalam menjelaskan obyek kajian dakwah antarbudaya dengan menggunakan prosedur

e.   Komunikasi Lintas Budaya dan Agama

Manusia tidak mungkin tidak melakukan Komunikasi sekalipun dalam keadaan bisu (tuna wicara). Karena komunikasi sesungguhnya tidak saja dipahami sebagai penyampai pesan melalui bahasa (verbal), tetapi komunikasi adalah penyampaian pesan melalui lambang-lambang yang dapat dipahami oleh kedua belah pihak (komunikator-komunikan) apapun bentuk lambang tersebut. Dengan makin meningkatnya globalisasi, kita sudah mulai terkena efek GLOBAL VILLAGE dimana ciri nya adalah;

1. Adanya keinginan akan keseragaman yang meningkat

2. Adanya keinginan akan pengalaman yang sama

3. Meningkatnya pengaruh media elektronik seperti televisi, satelit komunikasi, antena parabaola, dll.

Menurut Saral, menjelaskan bahwa komunikasi antarbudaya dimaknai sebagai bentuk interaksi yang berlangsung ketika speaker dan listener berasal dari budaya yang berbeda. Komunikasi antarbudaya sering melibatkan perbedaan-perbedaan ras dan etnis, namun komunikasi antarbudayanya juga berlangsung ketika muncul perbedaan yang mencolok tanpa harus disertai perbedaan ras dan etnis. Perbedaan kultural bersama-sama dengan perbedaan lain dalam diri seseorang (seperti misalnya kepribadian individu, umur, dan penampilan fisik) memberikan kontribusi kepada sifat problematic yang melekat dalam proses komunikasi antarmanusia. Tentu saja dengan memberikan penekanan baik kepada perbedaan-perbedaan kultural yang sesungguhnya maupun perbedaan kultural yang dipersepsikan antara pihak-pihak yang berkomunikasi, maka komunikasi antarbudaya menjadi sebuah perluasan bagi studi komunikasi antarpribadi, komunikasi organisasi dan kawasan-kawasan komunikasi antarmanusia yang lain.

Komunikasi Lintas budaya adalah proses dimana dialihkan ide atau gagasan suatu budaya yang satu kepada budaya yang lainnya dan sebaliknya, dan hal ini bisa antar dua kebudayaan yang terkait ataupun lebih, tujuannya untuk saling mempengaruhi satu sama lainnya, baik itu untuk kebaikan sebuah kebudayaan maupun untuk menghancurkan suatu kebudayaan, atau bisa jadi sebagai tahap awal dari proses akulturasi (penggabungan dua kebudayaan atau lebih yang menghasilkan kebudayaan yang baru). Komunikasi antar agama dan budaya adalah komunikasi atau interaksi yang dilakukan tidak hanya dalam kalangan yang sama akan tetapi demgan latar belakang yang berbeda baik dari Ras maupun Etnisnya. sedangkan komunikasi lintas agama dan budaya merupakan proses penglihan suatu ide dari budaya yang satu dengan yang lainnya. 

f.    Tujuan dan Fungsi Dakwah Multikultural Antarbudaya

Budaya berkenaan dengan cara manusia hidup, manusia belajar berfikir, merasa, mempercayai dan mengusahakan apa yang patut menurut budayanya. Budaya adalah suatu konsep yang membangkitkan minat, sistem budaya merupakan kesatuan gagasan atau ide yang bersifat kognitif sebagai pendorong dan pemberi kontrol 45 terhadap perilaku masyarakat dalam melaksanakan tindakan kebudayaan. Ada yang mengatakan bahwa budaya merupakan seni, perlu diingat bahwa kebudayaan bukan sekedar seni, bahkan makna kebudayaan melebihi pengertian dari seni itu sendiri. Karena kebudayaan merupakan sebuah jaringan kerja dalam kehidupan manusia yang dapat mempengaruhi sikap dan perilakunya. Hubungan antara budaya dengan dakwah sama–sama mempelajari/membahas tentang manusia dengan segala budaya yang dimilikinya, manusia sebagai makhluk sosial dan dakwah obyeknya juga manusia baik individu maupun dalam kelompok. Oleh karena itu, dakwah Islam mempunyai kaitan simbiosis dengan budaya, di mana nilai-nilai Islam dapat dipadukan. Namun halnya ini perlu adanya konsep dakwah yang strategis, dengan pengelolaan secara profesional yang mampu mengakomodasi segala permasalahan sosial. Di mana, di satu sisi banyak budaya yang dapat dijadikan sebagai media dakwah dan di sisi lain sebagai sasaran dakwah itu sendiri.

Berdakwah dengan menggunakan budaya memang telah diawali oleh para wali yang pertama kali menyebarkan Islam di pulau Jawa, para wali terlebih dahulu melakukan perencanaan dan perhitungan yang akurat diimbangi dengan pertimbangan yang rasional dan strategis yakni dengan mempertimbangkan faktor geostrategis yang disesuaikan dengan kondisi mad’u yang akan dihadapinya. Para wali dalam menyebarkan ajaran Islam khususnya di Jawa, telah terjadi secara alami dan damai. Tanpa proses revolutif ataupun peperangan, dengan mengesampingkan beberapa kejadian penafsiran sejarah. Fungsi ini dijalankan karena masyarakat belum mampu mengekspresikan aspirasi mereka sendiri dan karena ketidakmampuan parlemen sepenuhnya mengartikulasikan aspirasi rakyat. Fungsi dakwah ke lapisan atas adalah mempelajari berbagai kecenderungan masyarakat yang sedang berubah ke arah modern-industrial sebagai langkah strategis dalam mengantisipasi perubahan sosial yang ada. Terjadinya perubahan modern-industrial akibat perubahan sosial akan memisahkan individu dari keluarga, komunitas dan lembaga keagamaan yang akan menimbulkan keterasingan dan kehilangan pegangan dan mungkin lebih dalam lagi akan menimbulkan sekulerisasi dalam kehidupan beragama. Fungsi dakwah kultural yang bersifat ke bawah berarti menyelenggarakan dakwah dalam bentuk penerjemahan ide-ide intelektual tingkat atas bagi umat Islam serta rakyat pada umumnya untuk membawakan transformasi sosial, dengan mentransformasikan ide-ide tersebut ke dalam konsep operasional yang dapat dikerjakan oleh umat. Fungsi dakwah kultural ini bernilai praktis dan mengambil bentuk utama dakwah bi al Haal, yaitu dakwah yang ditekankan pada perubahan dan perbaikan kehidupan masyarakat yang miskin agar terhindar dari perilaku yang mengarah kepada kekufuran.

g.  Kesimpulan

Berdasarkan beragam argumentasi mengenai dakwah multikultural yang telah dipaparkan di atas, kita dapat menarik beberapa kesimpulan. Pertama, dakwah multikultural berarti sebuah upaya dalam menciptakan keharmonisan di tengah-tengah masyarakat yang beragam dan tetap mampu mengendalikan diri dan bertoleransi terhadap segala bentuk perbedaan yang tidak mungkin disamakan dalam berbagai aspeknya. Sedangkan dakwah dengan pendekatan multikulturalisme adalah sebuah pemikiran dakwah yang concern pada penyampaian pesan-pesan Islam dalam konteks masyarakat plural dengan cara berdialog untuk mencari titik temu atau kesepakatan terhadap hal-hal yang mungkin disepakati, dan berbagai tempat untuk hal-hal yang tidak dapat disepakati. Kedua, basis dakwah multikultural sebenarnya terdapat dalam kitab suci Al[1]Qur’an itu sendiri yang menegaskan bahwa fakta multikultural umat manusia yang beragam dan berbeda satu sama lain merupakan kehendak sekaligus sunatullah bagi kehidupan umat manusia sepanjang sejarah.

Dengan kesadaran tentang adanya keragaman dan perbedaan itu, umat manusia dituntut untuk berlomba-lomba dalam kebajikan, sehingga akan terjadi kreativitas dan peningkatan kualitas kehidupan umat manusia dalam berbagai aspeknya demi kemaslahatan hidup bersama. Ketiga, pendekatan pendekatan dakwah multikultural mencakup lima spek yakni menekankan agar target dakwah lebih diarahkan pada pemberdayaan kualitas umat dalam ranah internal dan kerja sama serta dialog antar-agama dan budaya dalam ranah eksternal, menggagas ide tentang kesetaraan hak-hak warga negara, termasuk hak-hak kelompok minoritas, lebih mengutamakan pendekatan kultural, ketimbang harakah (salafi jihady), menggagas ide dialog antar-budaya dan keyakinan (interculture-faith understanding), serta menyegarkan kembali pehamaman doktrin[1]doktrin Islam klasik, dengan cara melakukan reinterpretasi dan rekonstruksi paham Islam, sesuai dengan perkembangan masyarakat global-multikultural.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, A. 1993. “Dakwah Islam dan Perubahan Sosial: Suatu Kerangka Pendekatan dan Permasalahan” Dakwah dan Perubahan Sosia”l, Yogyakarta, Bima Putra

An-Nabiry, Fathul Bahri, Meniti Jalan Dakwah. Jakarta: Amzah, 2008.

Ali, Abdullah, 2004; “Antropologi Dakwah”, Cirebon, KPI Press

Azra, Azyumardi, dkk., Fikih Kebinekaan. Bandung: Mizan, 2015.

Basit, Abdul, Filsafat Dakwah. Jakarta: Rajawali Pers, 2013

Ismail, A. Ilyas & Prio Hotman, Filsafat Dakwah: Rekayasa Membangun Agama dan Peradaban Islam. Jakarta: Kencana, 2011.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DAKWAH ISLAM BERBASIS MULTIKULTURAL

  DAKWAH ISLAM BERBASIS MULTIKULTURAL Makalah Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi Dalam Memenuhi Salah Satu Tugas Dakwah Mu...