Sabtu, 17 April 2021

DAKWAH DALAM KOMUNIKASI ANTAR ETNIK, RAS, BUDAYA DAN BANGSA


DAKWAH ANTAR ETNIK, RAS dan BANGSA

Oleh: 
Novi Fitriatul Hasanah
Nim:
B01219041

Budaya dan masyarakat ibarat dua sisi mata uang logam yang merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara satu sama lain. Budaya tanpa masyarakat itu tidak mungkin, begitu juga sebaliknya masyarakat tanpa budaya itu juga tidak mungkin. Dalam komunikasi antarbudaya, seseorang memiliki budaya yang berbeda dengan orang lain harus bisa mendalami dan mempelajari bagaimana ia berkomunikasi dengan orang yang berbeda budaya. Komunikasi antarbudaya ini tidak ada saling pengertian antar satu budaya dan lainnya maka pastinya akan terjadi masalah. Dalam ilmu komunikasi antarbudaya, hal utama adalah sumber dan penerimanya berasal dari budaya yang berbeda. Perbedaan kultur dari orang-orang yang berkomunikasi ini juga menyangkut kepercayaan, nilai, serta berperilaku kultur di lingkungan mereka. Perbedaan budaya tidak menjadi halangan untuk satu sama lain menjalin hubungan (relationship), yang terpenting adalah saling memahami (understanding), saling beradaptasi (adaptation) dan saling bertoleransi (tolerance). Kunci utama dari pergaulan antarbudaya adalah tidak menilai orang lain yang berbeda budaya dengan menggunakan penilaian budaya sendiri.

Berbicara komunikasi tentunya banyak pengertian yang akan mudah ditemukan. Meskipun bermacam-macam definisi komunikasi,  namun arti atau inti dari definisi tetap sama. Pada hakikatnya komunikasi adalah proses pernyataan manusia, yang dinyatakan itu adalah pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya. Adapun komunikasi antarbudaya merupakan proses komunikasi yang dilatarbelakangi budaya yang berbeda, yang  keberhasilan proses komunikasi tentu saja tidak bisa lepas dari unsur unsur komunikasi antarbudaya. Seperti halnya proses komunikasi yang mempunyai unsur-unsur dalam komunikasi. Dakwah pada umumnya, penyampaian pesan dari dai kepada madu dengan menggunakan berbagai macam media dan metode agar tercapai tujuan dakwahnya. Akan tetapi, yang membedakan pembahasan dakwah disini, dakwah yang berasal dari latar belakang yang berbeda, misalnya perbedaan budaya antara da’i dan mad’u. Dakwah inilah yang disebut dengan dakwah lintas budaya. Dalam pertemuan ini kita akan kaji secara mendalam tentang dakwah lintas budaya (lintas etnik, ras, & bangsa). Dalam dakwah lintas budaya, keragaman merupakan tantangan bagi dai supaya mampu meramu pesan-pesan dakwah yang lebih bijaksana dengan mempertimbangkan kondisi positif budaya madu termasuk memperhatikan media dan metode yang dianggap bisa mendekatkan antara da’i dan mad’u.

Komunikasi adalah salah satu syarat berlangsungnya hubungan antar manusia atau iteraksi sosial antar sesama makhluk. Oleh karena itu tidak heran bahwa kegiatan komunikasi sudah biasa terjadi dalam lingkungan hidup manusia. Dengan begitu istilah manusia adalah makhluk sosial sangtalah dibenarkan, karna manusia tidak bisa hidup sendiri mereka membutuhkan makhluk lain nya dalam melangsungkan kehidupan sosial. Banyak ragam dalam komunikasi, yaitu ;

 1.      Komunikasi Antarbudaya, ialah kegiatan komunikasi yang memiliki dua latar belakang budaya berbeda. Secara istilah luasnya dapat diartikan komunikasi antar budaya, bangsa, suku, juga ras. Sedangkan dalam istilah individu diartikan komunikasi antar kepribadian yang memiliki perbedaan kebiasaan. Namun komunikasi antarbudaya sering terjadi konflik juga persepsi, karna ada beberapa budaya tertentu yang memiliki makna bereda, seperti bersendawa setelah makan. Dalam budaya tertentu bersendawa merupakan sikap pujian atas makanan yang enak juga lezat, sedangkan budaya lainnya bersendawa adalah sikap atau prilaku yang kurang sopan. Maka solusi terbaik dalam berkomunikasi antarbudaya ialah mempelajari budaya setempat dan meningkatkan sikap toleransi.

2.      Komunikasi dalam ilmu lain:

a.       Komunikasi politik,  komunikasi yang melibatkan pesan-pesan politik atau yang berhubungan dengan politik, yang berkaitan dengan hukum, kekuasaan, jabatan dan kebijakan pemerintah. Dengan pengertian ini, sebagai sebuah ilmu terapan, komunikasi politik bukanlah hal yang baru. Komunikasi politik juga bisa dipahami sebagai komunikasi antara "yang memerintah" dan "yang diperintah".

b.      Komunikasi kesehatan, komunikasi yang terjadi antara para medis.

c.       Komunikasi terapetik, komunikasi tidak hanya berlaku para medis, melinkan komunikasi tersebut bisa dilakukan bagi para terapis atau anggotanya. Komunikasi merupakan sesuatu yang sangat penting bagi perawat dalam berinteraksi dengan pasien.

d.      Komunikasi dakwah, komunikasi yang dilakukan untuk menyampaikan hal-hal kebaikan menurut ajaran Islam yang sesuai denga syariat, aqidah juga akhlak.

e.       Komunikasi krisis dan bencana, proses komunikasi yang dilakukan dalam penanganan bencana, seperti covid19. Strategi dan taktik komunikasi yang digunakan organisasi ketika menghadapi krisis ini dapat memperbaiki citra dan reputasi pasca krisis.

3.      Komunikasi trasendental, komunikasi yang terjadi antara manusia dengan Tuhannya dimana alur komunikasi nya satu arah (sembahyang, sholat dan berdoa).

4.      Komunikasi spiritual, proses komunikasi yang melibatkan unsur-unsur spiritual seperti perasaan atau rasa saat berbicara berkomunikasi dengan Tuhannya dan makhluk-makhluknya. Proses komunikasi terjadi dengan alur dua arah, maksudnya tahap yang lebih tinggi ialah dalam mencapai konektifitas yang solid dengan sang Pencipta dan ciptaan nya yang lain.

5.      Komunikasi supranatural, merupakan proses komunikasi yang terjadi dengan makhluk-makhluk astral dengan tujun secara mayoritas negative. Komunikasi tersebut sering terjadi kesalahpahaman antara spiritual dengan supranatural.

Masyarakat Indonesia diwarnai oleh berbagai macam perbedaan sebagai akibat dari kondisi kewilayahan, suku bangsa, budaya, agama dan adat istiadat. Faktor penyebab keberagaman masyarakat Indonesia antara lain: Letak strategis wilayah Indonesia, Kondisi negara kepulauan, Perbedaan kondisi alam, Keadaan transportasi dan komunikasi dan Penerimaan masyarakat terhadap perubahan. Keberagaman masyarakat Indonesia memiliki dampak positif sekaligus dampak negatif bagi diri sendiri, masyarakat, bangsa dan negara.Dampak positif, keberagaman memberikan manfaat bagi perkembangan dan kemajuan. Sedangkan dampak negatifnya mengakibatkan ketidak harmonisan bahkan perpecahan bangsa dan negara.

Sedangkan, keberagaman Bhineka Tunggal Ika memiliki makna yaitu adanya keberaganman tersebut akan menjadi modal sosial yang besar untuk membangun bangsa dan negara. Sebaliknya, bila kebergaman tersebut tidak dapat dikelola dengan baik dan tidak dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika, maka dapat menjadi penyebab timbulnya konflik yang membahayakan keutuhan bangsa dan negara Indonesia. Dengan demikian, semboyan Bhinneka Tunggal Ika dipergunakan sebagai upaya mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Meskipun berbeda-beda suku bangsa, adat istiadat, ras dan agama, masyarakat Indonesia tetap bersatu dalam perjuangan mengisi kemerdekaan. Untuk mewujudkan cita-cita negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Keberagaman bukan unsur perpecahan namun justru yang menciptakan kesatuan bangsa melalui semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Kesatuan adalah upaya untuk mempersatukan perbedaan suku, adat istiadat, ras dan agama untuk menjadi satu yaitu bangsa Indonesia. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika berarti berbeda-beda tetapi tetap satu. Makna BhinnekTunggal Ika adalah meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap satu kesatuan. Semboyan ini menggambarkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang memiliki keberagaman suku bangsa, budaya, bahasa daerah, agama dan kepercayaan, ras maupun Merawat Bhinneka Tunggal Ika.

Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang majemuk, ditandai dengan banyaknya etnis, suku, agama, bahasa, budaya, dan adat-istiadat. Untuk persoalan agama, negara Indonesia bukanlah sebuah negara teokrasi, melainkan secara konstitusional negara mewajibkan warganya untuk memeluk satu dari agama-agama yang diakui eksistensinya sebagaimana tercantum di dalam pasal 29 ayat (1) dan (2) UUD 1945. Negara memberi kebebasan kepada penduduk untuk memilih salah satu agama yang telah ada di Indonesia yaitu agama Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Budha dan Konghuchu. Kenyataan ini dengan sendirinya memaksa negara untuk terlibat dalam menata kehidupan beragama. Kerukunan hidup umat beragama merupakan suatu sarana yang penting dalam menjamin integrasi nasional, sekaligus merupakan kebutuhan dalam rangka menciptakan stabilitas yang diperlukan bagi proses pencapaian masyarakat Indonesia yang bersatu dan damai. Kerjasama yang rukun dapat terjadi apabila diantara para pemeluk agama merasa saling membutuhkan, saling menghargai perbedaan, saling tolong menolong, saling membantu dan mampu menyatukan pendapat atau istilah lainnya memiliki sikap toleransi.

Sikap toleransi adalah kemampuan hidup dengan sesuatu (termasuk sikap dan situasi oranglain) yang tidak anda sukai, toleransi tidak hanya untuk antar agama melainkan antar ras, etnis juga bangsa. Kita tidak menyukinya karena hal ini berbeda dengan apa yang biasa anda lakukan., tidak sesuai dengan nilai yang kita pegang atau tradisi tempat kita dibesarkan. Terkadang kita memang harus hidup seperti itu, agar kita mengalami kesulitan atau agar kita memahami penyebab nya yang membuat orang lain melakukan apa yang tidak kita sukai dan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar dalam situasi nya. Konflik akan terjadi sewaktu-waktu sehingga pengembangan diri terhambat. Namun, memberi banyak sikap toleransi tidaklah berbahaya. Menurut ajaran Islam, toleransi bukan saja terhadap sesama manusia, tetapi juga terhadap alam semesta, binatang, dan lingkungan hidup. Dengan makna toleransi yang luas semacam ini, maka toleransi antar-umat beragama dalam Islam memperoleh perhatian penting dan serius. Apalagi toleransi beragama adalah masalah yang menyangkut eksistensi keyakinan manusia terhadap Allah. Ia begitu sensitif, primordial, dan mudah membakar konflik sehingga menyedot perhatian besar dari Islam. Makalah berikut akan mengulas pandangan Islam dan sosiologis tentang toleransi. ini dilakukan baik pada tingkat paradigma, doktrin, teori maupun praktik toleransi dalam kehidupan manusia.

Islam memiliki konsep yang jelas. “Tidak ada paksaan dalam agama” , “Bagi kalian agama kalian, dan bagi kami agama kami” adalah contoh populer dari toleransi dalam Islam. Selain ayat-ayat itu, banyak ayat lain yang tersebar di berbagai Surah. Juga sejumlah hadis dan praktik toleransi dalam sejarah Islam. Fakta-fakta historis itu menunjukkan bahwa masalah toleransi dalam Islam bukanlah konsep asing. Toleransi adalah bagian integral dari Islam itu sendiri yang detail-detailnya kemudian dirumuskan oleh para ulama dalam karya-karya tafsir mereka. Kemudian rumusan-rumusan ini disempurnakan oleh para ulama dengan pengayaan-pengayaan baru sehingga akhirnya menjadi praktik kesejarahan dalam masyarakat Islam. Pikiran Islam yang mendukung sebuah teologi toleransi adalah keyakinan kepada sebuah agama fitrah, yang tertanam di dalam diri semua manusia, dan kebaikan manusia merupakan konsekuensi alamiah dari prinsip ini. Dalam hal ini, alQur’an menyatakan yang artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu ke arah agama menurut cara (Allah); yang alamiah sesuai dengan pola pemberian (fitrah) Allah, atas dasar mana Dia menciptakan manusia…”

Kerukunan Hidup Umat Beragama, berarti perihal hidup rukun yaitu hidup dalam suasana baik dan damai, tidak bertengkar; bersatu hati dan bersepakat antar umat yang berbeda-beda agamanya; atau antara umat dalam satu agama. Dalam terminologi yang digunakan oleh Pemerintah secara resmi, konsep kerukunan hidup beragama mencakup 3 kerukunan. yaitu : kerukunan intern umat beragama, kerukunan antar umat yang berbeda-beda agama, dan kerukunan antara (pemuka) umat beragama dengan Pemerintah. Upaya mewujudkan kerukunan hidup beragama tidak terlepas dari faktor penghambat dan penunjang. Faktor peng¬hambat kerukunan hidup beragama selain warisan politik penjajah juga fanatisme dangkal, sikap kurang bersahabat, cara-cara agresif dalam dakwah agama yang ditujukan kepada orang yang telah beragama, pendirian tempat ibadah tanpa mengindahkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan pengaburan nilai-nilai ajaran agama antara suatu agama dengan agama lain; juga karena munculnya berbagai sekte dan faham keagamaan kurangnya memahami ajaran agama dan peraturan Pemerintah dalam hal kehidupan beragama. Faktor-faktor pendukung dalam upaya kerukunan hidup beragama antara lain adanya sifat bangsa Indonesia yang religius, adanya nilai-nilai luhur budaya yang telah berakar dalam masyarakat seperti gotong royong, saling hormat menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya, kerjasama di kalangan intern umat beragama, antar umat beragama dan antara umat beragama dengan Pemerintah.

Dalam kehidupan multikultural diperlukan pemahaman dan kesadaran multibudaya yang menghargai perbedaan, kemajemukan dan sekaligus kemauan berinteraksi dengan siapapun secara adil. Menghadapi keragaman, maka diperlukan sikap moderasi, bentuk moderasi ini bisa berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Sikap moderasi berupa pengakuan atas keberadaan pihak lain, pemilikan sikap toleran, penghormatan atas perbedaan pendapat, dan tidak memaksakan kehendak dengan cara kekerasan. Diperlukan peran pemerintah, tokoh masyarakat, dan para penyuluh agama untuk mensosialisasikan,menumbuhkembangkan wawasan moderasi beragama terhadap masyarakat Indonesia untuk terwujudnya keharmonisan dan kedamaian.

                                                        DAFTAR PUSTAKA

Anugrah Danang dan Winny Kresnowiati, Komunikasi Antarbudaya: Konsep dan Aplikasinya. Jakarta: Permata. 2007

Liliweri, Alo. Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2007

Rahmat, Jalaluddin. Psikiologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rusdakarya. 1999

 


1 komentar:

  1. mohon maaf sebelumnya, tulisan berwarna putih bukan saya copypaste gitu aja pak, namun saya ambil kesimpulan atau revew dari video youtube yang bapak kasih. sekian terimaksih

    BalasHapus

DAKWAH ISLAM BERBASIS MULTIKULTURAL

  DAKWAH ISLAM BERBASIS MULTIKULTURAL Makalah Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi Dalam Memenuhi Salah Satu Tugas Dakwah Mu...